SUPAYA MEREKA JADI ‘BANDEL’…
September 26th, 2007 by d062labMahasiswa dalam lingkungan DKV idealnya punya dorongan berkarya yang setidaknya, seharusnya cukup besar, baik dalam konteks akademis maupun ber-eksperimen (baca: non formal). Dorongan untuk menghasilkan karya yang segar, mempunyai kebaruan dan tidak kaku sebenarnya bersumber dari ‘dunia’ mereka sendiri, dalam hal ini ruang lingkup anak muda dengan celotehnya yang bebas, ide-ide bandel dan ‘nyeleneh’ -mendasar- yang di tingkat lembaga dapat ‘ditangkap’ melalui kegiatan atau pemusatan potensi, misalnya di dalam komunitas.
Kuliah untuk menjadi ‘bandel’, ‘iseng’ dan ‘liar’ memang tidak ada di dalam kurikulum, tapi energi itu dibutuhkan untuk sebuah proses penciptaan, dan pengajar adalah yang memotivasi, mahasiswa mencari referensi yang berbeda-beda, tujuannya mencapai keunikan. Idealnya lagi, dorongan non formal yang ‘bermain’ dan berkonsentrasi pada pengajaran di dalam kelas berjalan beriringan dan saling melengkapi. Bagaimana bentuk yang ideal mungkin belum pernah dirumuskan, keseimbangannya sangat relatif. Yang pasti, posisi yang saling melengkapi tersebut jadi penting, tugas-tugas perkuliahan dapat menjadi rambu ide-ide di luar kelas yang ’ngalor ngidul’, sementara ide-ide tadi dapat merespon kejenuhan menghadapi sistem belajar yang memang -sudah dan harus- ditata rapi, sarat dengan aroma ’keteraturan’.
Saya jadi ingat kalimat ’sadar potensi’ yang dekat dengan saya di pertengahan tahun ’98 saat kuliah, potensi tiap individu memang berbeda-beda, DKV sendiri sudah berkembang dengan begitu pesatnya, kelelahan sangat mungkin terjadi ketika semua itu dicoba untuk dikejar karena yang dituju masih sangat melebar. Saya jadi ingat -lagi- dengan pemikiran John Naisbitt yang bilang bahwa korporat masa depan yang bertahan adalah mereka yang memecah dirinya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan bergerak di dalam ruang otonominya sendiri, sebaiknya tanpa melupakan awal yang memberi inspirasi. Dengan modal sok tahu dan pengetahuan yang seadanya, sempat terpikir oleh saya, apakah model tersebut juga berlaku untuk lembaga di luar kepentingan ekonomi? I’m talking about the education world, maksudnya - bagaimana apabila pendidikan dalam konteks lembaga bergeser menjadi pembelajaran di dalam komunitas dengan ketertarikan yang berbeda-beda? Setidaknya jadi ada alternatif. Terbayang oleh saya, klub motor yang sering memenuhi ruas jalan di kala touring adalah komunitas pencinta dan pengamat otomotif, obrolan soal mesin dan perawatannya diterbitkan menjadi jurnal untuk disebar luaskan, dan dalam suatu kesempatan mereka bertukar informasi dengan komunitas pencinta tanaman hias yang merupakan pecahan dari klub pencinta ilmu alam.
Lalu, komunitas apa saja yang mungkin ada dan tumbuh di dalam ruang lingkup mahasiswa DKV? Sebut saja hal-hal yang dekat dengan mereka, komik, mengutak-atik mainan, bahan bacaan alternatif - termasuk cerpen, puisi, literatur yang dianggap berat dan absurd, juga proses produksi dan distribusinya yang independent, nonton film, musik, fashion, karya-karya yang humble dan dapat diakses oleh publik, meruntuhkan pengertian bahwa belajar visual adalah sesuatu yang mengawang-awang karena sarat dengan berwacana, dan masih banyak lagi. Lalu bagaimana potensi-potensi tersebut dapat diaktualkan?
Ketika nimbrung di dalam diskusi internal sebuah LSM kebudayaan, saya memilih menjadi pendengar saja karena yang angkat bicara -buat saya- adalah para pakar di bidangnya, issue yang dilempar ke forum ditelaah dari beragam sudut pandang, dibahas bergantian seperti main pingpong. Terkadang saya ikut mengangguk-angguk, padahal belum tentu mengerti, sampai akhirnya wacana yang mereka bicarakan dilanjutkan dengan workshop yang dapat dilihat, dan saya jadi mengerti apa isi diskusi yang bikin saya kebingungan itu. Akhirnya, sebuah pameran digelar sebagai kegiatan penutup untuk menunjukkan pencapain mereka yang terlibat di dalamnya. Ternyata diskusi, workshop dan pameran tersebut adalah sebuah rangkaian kegiatan dengan tema besar yang mendasar dan jadi bagian dari keseharian kita, yaitu mengenal kota Jakarta. Saya bisa tersenyum lega, padahal sebelumnya saya asing dengan kalimat-kalimat seperti core value dan augmented value, kalau sekarang, ya setidaknya lumayanlah…
Yang barusan hanya contoh. Tujuan yang jelas dalam berkegiatan sebaiknya sudah diketahui dan diwaspadai dari awal. Tanpa perlu pemikiran yang berat -karena akan jadi berjarak dan menakutkan-, aktivitas berkreasi dapat berjalan dan mengalir untuk menemukan muara konkretnya. Kelompok diskusi, menganalisa, ber-argumen, eksplorasi, dan pencapaian yang dipamerkan adalah beberapa menu di dalamnya. Butuh kerja sama dan perhatian banyak pihak untuk menggerakkan potensi yang sebenarnya sudah kita punyai tapi mungkin belum disadari, untuk bergerak dari tahap ’punya ciri’ ke ’sadar identitas’ sampai menentukan pilihan dan punya kesiapan mental untuk masuk ke wilayah yang selanjutnya (baca: ekonomi).
Jakarta, 270907
(ditulis untuk katamata)